RUANG LAIN
Karya : Taufiqur Rahman
Di atas panggung terlihat seorang lelaki tua yang sedang duduk memangku dagu diatas tumpuan tangannya yang memegang tongkat untuk menopang tubuhnya berdiri dan berjalan. Ia menatap sejurus tanpa menghiraukan disekitarnya. Ia sesekali menangis, tersenyum dan kemudian menangis tersedu-sedu karena kepergian cucu yang disayanginya 2 hari yang lalu yaitu Anna telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Lantunan musik sayup-sayup menyayat hati para penonton semakin bertambah pula rasa pilu yang dirasakan lelaki tua itu.
(Diam, meringis dan menangis tersedu-sedu)
Sangat sakit rasanya, bila orang yang dicintai telah pergi menghadap-Nya. Tetapi mengapa? Mengapa dia pergi dengan meninggalkan luka yang dalam?Ohh .... Anna cucuku ... Anna ... Anna ... Aku masih ingat sekali saat menikmati pisang goreng dan kopi hitam pahit di teras 2 hari yang lalu. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar samar suara sirine, kemudian suara itu semakin dekat, dekat dan bahkan sangat dekat terlihatlah mobil ambulance putih parkir di halaman rumahku. Jantungku berdegup keras, tanganku bergetar dan aku berdiri menyambut petugas rumah sakit yang menghampiriku. Kemudian ia bertanya, “apa benar ini rumah bapak husin?” Ya, saya sendiri husin. Kemudian dia bertanya kembali, “apa benar cucu bapak bernama Anna?” Ya, benar ada apa dengan cucuku mas? “ Maaf pak, kami disini mengabarkan bahwa Anna cucu bapak telah Menghadap Yang Maha Kuasa.”
Hatiku seperti dicabik-cabik mendengar berita itu, dan air mataku meleleh saat melihat jenazah cucuku dibawa ke dalam ruang tamu rumahku. Aku bertanya pada petugas apa penyebab kematian cucuku? Mereka menjawab, cucuku mati karena menjadi korban dari bentrok antar pelajar saat ia pulang sekolah tadi siang. Aku sangat marah mendengarnya, rasanya aku ingin membalas dendam kematian cucuku. Tapi aku tahan juga emosiku ini, kemudian aku bertanya kembali. Siapa yang telah membunuh cucuku? Sudahkah ia diberi hukuman yang setimpal? Namun mereka hanya menjawab, yang membunuh cucuku masih menjadi buronan polisi.
Inikah negeri hukum? Inikah negeri yang memiliki moral pendidikan? Mengaku setiap sekolah dapat mendidik muridnya dengan baik. Tapi, murid-muridnya masih hobi dengan insiden yang mematikan. Cucuku-lah yang menjadi korban atas insiden itu ... mungkin kunci utamanya adalah kegagalan dari sekolah itu sendiri? Mengapa? Karena, sekolah itu hanya menjadikan siswanya sebagai objek pendidikan dari pagi hingga sore hanya dijejali otak kiri mereka. Seharusnya, siswa itu dijadikan sebagai subjek pendidikan. Mengembangkan potensi setiap siswa mulai dari kemandirian, kreatifitas, dinamika, kecermatan, kecerdasan dan perluasan pengetahuan. Nah, itu baru benar bahwa sekolah itu sebagai lembaga pendidikan.
Tetapi yang masih diherankan adalah guru yang kurang demokratis kepada anak didiknya. Apa yang dikatakan guru adalah segala-galanya. Yang lebih salah lagi ukuran penilaian terhadap kecerdasan anak didik seringkali hanya dilihat dari hasil skor nilai dari materi yang telah diberikan gurunya.
Contoh yang paling mudah adalah guru agama. Mengapa? Karena seringkali guru agama menilai anak didiknya sesuai dengan hasil tes. Bukan didasarkan anak didik dapat mengaplikasikan ajaran-ajaran agama dalam kehidupan sehari-harinya. Hmmm ... menyedihkan ...
Ruang lain yang perlu diperhatikan antara murid, guru dan kepala sekolah adalah diskusi dari hati ke hati demi kemajuan pendidikan bangsa. Yaa sekalinya ada dialog semua kesalahan pasti ditutupi(menyindir). Ingat! Bodohnya para pendidik menimbulkan anak didiknya bereaksi diluar ruang sekolah... Yaa, di depan guru baik tapi di luar sekolah mereka melakukan tindakan yang menyimpang seperti tawuran, drugs, obat-obat yang terlarang dsb.
Apalagi kalau sarana berekspresi di sekolah yang kurang memadai. Padahal sarana berekspresi adalah sarana yang sangat menunjang untuk meningkatkan rasa enjoy terhadap proses pendidikan di sekolah. Akibat kurangnya sarana berekspresi, tidak sedikit anak didik yang menyalurkan energi di luar sekolah tanpa kendali sang pendidik. Meski sudah ada sarananya, tidak sedikit sekolah yang menutup mata agar anak didiknya tidak terlalu berkecimpung di dunia kreatifitas. Contoh, meski ada kegiatan non akademik sekolah tetap saja memaksakan kehendak muridnya untuk terus belajar di ruang kelas hingga sore hari. Sampai-sampai dalam satu minggu mungkin siswa hanya mendapat 1 jam kegiatan non akademik. Apakah ini disebut keadilan?
Pemerintah dan masyarakat tampaknya harus bekerja keras untuk dapat membangun kualitas pendidikan sebagaimana yang diharapkan. Bukan hanya otak kiri saja yang terus dijejali pemantapan. Justru otak kanan yang mesti lebih dominan.
(Bangun dengan ekspresi kesal dan marah sambil memukulkan tongkatnya ke kursi. Dia bicara sambil meracau tak tertahan emosinya sendiri)
Akh ... persetan aku bicara tentang semua tadi!! Tidak mungkin cucuku dapat hidup kembali, tidak mungkin juga apa yang tadi kubicarakan di dengar oleh orang-orang yang katanya berpendidikan tinggi! Apa mungkin orang yang telah membunuh cucuku mendapatkan hukuman setimpal dengan apa yang kurasakan dan dirasakan juga oleh almarhumah cucuku? Wahai presiden lihatlah cucuku yang mati karena dibunuh, aku ingin menuntut balas atas kematian cucuku!!! Jangan biarkan kami menderita karena hanya menjadi korban!!! Kami adalah rakyatmu juga yang wajib kau lindungi darah kami!!!
(Tiba-tiba lelaki tua itu memegang dadanya seperti orang yang tengah merasakan penyakit jantung & akhirnya dia jatuh tersungkur pingsan).
<Fade out lampu mati dan masih terdengar lantunan musik sayup-sayup menyedihkan>
Izin menggunakan naskahnya untuk tugas sekol
BalasHapusIzin pakai buat tugas
BalasHapus