Kamis, 20 Oktober 2011

SYUKURKU

Syukurku


Kalimat Istirja' berubah menjadi kalimat Tahmid
Satu minggu berlalu dengan gerak-gerik kehati-hatian
Hampir pesimis tak bisa melaksanakan Shalat Jum'at berjama'ah
Karena kaki yang satu hanya jadi penopangnya


Pagi menjelang siang hati I'tikadkan untuk menghamparkan sajadah
Sunggug masih sakit saat duduk diantara dua sujud
Tapi kutepis semua karena aku sudah bosan
Aku bosan Mendirikan Sholat diatas kursi


Walau tak sempurna gerakanku
Aku yakin hanya Allah yang tahu isi hati hamba-Nya
Dan pada waktu pagi menjelang siang
Aku bersimpuh memohon ampunan-Nya, kelapangan Rizki dan kesehatan


Alhamdulillah urusan demi urusan gugur dengan keberhasilan
Masalah demi masalah luntur karena Keagungan-Nya
Yaa Fattah Yaa Razzaq ... Yaa Fattah Yaa Razzaq ...
Asma itu yang meyakinkan hatiku akan kegemilangan

Minggu, 16 Oktober 2011

KIFARAT

Kifarat

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un
Saat adzan subuh bersahutan ditiap surau
Saat fajar menyingsingkan aroma kelembutan
Saat tetes embun tanda pagi sudah menyambut


Aku malu masih belum mampu memenuhi panggilan Sang Kholik
Aku malu masih asik dengan mimpi-mimpiku
Aku malu masih belum pulih Akhlaq-ku
Aku malu hingga kifarat yang terjadi kepadaku


Waktu dhuha menjelang aku sambut dengan senyum
Aku siap menyambut hari pergi ke kampus
Namun fakta terjadi seperti yang tidak diinginkan
Tragedi 150411 terulang kembali


Aku takin ini rezekiku hari ini 
Semoga menjadi kifarat atas dosa-dosaku yang telah lalu
Ighfirliy Yaa Allah
Maafkan dosaku Yaa Allah


~ 150411 & 171011~

Jumat, 14 Oktober 2011

YANG DITUNGGU

Yang Ditunggu


Tercipta dari rusuk Sang Adam
Cahyanya sinari kegelapan dunia
Senyumnya layaknya sang rembulan
Selalu merangkul jiwa-jiwa yang hilang


Semangatmu berikan warna baru
Berkibarlah Revolusi yang ditunggu-tunggu


Engkaulah ... wanita Pahlawan
Engkaulah ... wanita Pejuang
Pengorbananmu membawa perubahan
Peradaban yang selalu kami tunggu


Telah kau ajarkan kami ilmu yang tak ternilai
Telah kau ajarkan kami hidup untuk yang akan datang


Wahai sang Pahlawan kamilah anak cucumu
Yang siap ikut andil dan berjuang demi Tanah Air
Tanah kelahiran yang menjadi pijakan kami dan engkau
Kaulah jiwa kami ...
Kaulah tauladan kami ...
Kaulah yang akan slalu kami tunggu ...

Kamis, 13 Oktober 2011

ITU

ITU


Rangkaian kata tak cukup untuk itu
Aliran air mata menjadi samudera-pun tak cukup untuk itu
Mungkin hanya itu yang bisa
Tapi apakah itu bisa atasi?


Kemungkinan demi kemungkinan untuk dapatkan itu
Tapi apakah hanya itu tanpa pilihan?
Aku harapkan hal itu segera terbit
Tapi akankah secepat itu?


Mengapa hal itu terjadi?
Padahal aku butuh itu
Mereka tak akan mengerti yang aku maksudkan itu
Tapi aku tak kuat menahan semua itu sendiri


Aku bisa gila karena itu
Tapi apakah hanya karena itu?
Semua mulut komat kamit membicarakan hal itu

Apakah mereka mengerti apa yang dibicarakan itu?


Marilah sejenak untuk berfikir itu
Semoga menemukan apa yang kita cari itu
Mari rendahkan hati agar hal itu mendekat
Mari kita renungkan agar hal itu kita dapat


Dan akhirnya semua itu adalah .........




~ITU~

CINTA


CINTA

Cinta itu anugerah

Adalah suatu yang suci untuk dijaga
Suatu yang sangat indah jika menyatu dengannya 
Dengan cinta hidup lebih bermakna 


Tapi jangan menyangkal jika cinta hadir
Jangan salahkan siapapun jika ia telah hadir
Mengertilah arti CINTA
Karenanya aku yakin untuk hidup


Cintailah cinta yang mencintaimu
Sayangilah cinta yang menyayangimu
Rindukanlah cinta yang merinduimu
Tulusnya cinta terasa saat menggtarkan hati


Yakinlah Cinta itu akan terjaga
Yakinlah Cinta itu akan terpelihara
Yakinlah Cinta itu akan suci untukmu
Yakinlah Cinta itu selalu dihatiku


~ Putri Filzaty El-Rahman~

Terulang Kembali

Terulang Kembali


Disimpang jalan aku lihat ratusan tikungan kebingungan ...
Telah aku lewati 2 pintu yang tertutup ...
Telah aku lewati ruang dan waktu hampir 2 tahun ...
Tanpa ada orang yang sangat mencintai ...


Saat ini aku ingin melepas semuanya ...
Tapi aku sadar jika hal itu bukan langkah yang diajarkan beliau ...
Lantas apa yang harus aku perbuat ???
Teman hatiku-pun sudah tak disisiku ...


Aku tidak mau di tengah jalan ada wabah yag tak diinginkan ...
Karena hati dan fikiranku yang kosong ...
Aku tak merasakan semangat juangku, meski banyak yang menyemangatiku ...
Tapi bukan itu yang aku butuhkan ...


Andai saat ini aku dapatkan rangkulannya ...
Andai saat ini aku melihat senyumnya ...
Andai saat ini aku dapatkan kasih sayangnya ...
Aku pasti akan bangkit dari jeruji ini ...


Aku semakin terperosok saat disudutkan realita hidup ...
Aku murung seperti sedia kala ...
Saat akan melangkah tidak ada senyuman mereka ...
Saat akan melangkah aku kehilangan arah ...


Kadang aku tak percaya ini ...
Kadang tak terfikir seperti ini ...
Namun ini terjadi kembali ...
Masa rapuhku tanpa cinta ... 

Selasa, 11 Oktober 2011

IBU

IBU


Baru ku tahu ruh yang slalu merasuk relung hati ...
Baru ku tahu pemisah jerat kegelapan hidupku ...
Baru ku tahu keberkahan do'a mustajab penghantar ujianku ...
Baru ku tahu ikhlasnya dzikir untuk keberhasilanku ...


Sempat terfikir untuk membalasnya ...
Tapi apalah daya jika maut menjadi jurang pemisah ...
Meski masih ada apakah pengorbanannya dapat terbalas ???
Namun bagaikan setetes air di padang pasir ...
Yang tak mungkin dapat mengairi semua penjuru ...


Kini yang kurasa hanya dalam mimpi ...
Mimpi yang ku alami hanya cukup sekejap untuk mengobati rasa rindu ...
Tapi tak pernah terobati, karena hanya datang dan pergi ...
Memberi wasiat yang tidak dipahami ...


Senyum yang merekah ...
Do'a yang terpanjat ...
Semangat yang diberi ...
Menjadi memori yang sangat sulit terlupa ...


Akhirnya kujalani hidup ini dengan berdikari ...
Tersenyum jika mengingat nasihat-nasihatnya ...
Menangis jika mengingat senyuman dibalik kain putih yang membungkus kepergiannya ...


Hanya do'a dan harap ...
Mengantarkannya menuju singgasana Yang Maha Kuasa ...
Yaa Rabb, cintai Beliau layaknya beliau mencintaiku ...


Salam rindu untukmu Yaa IBU ... !!!!

Kisah Seekor Anak Singa

KISAH SEEKOR ANAK SINGA
Alkisah, di sebuah hutan belantara ada seekor induk singa yang mati setelah melahirkan anaknya. Bayi singa yang lemah itu hidup tanpa perlindungan induknya. Beberapa waktu kemudian serombongan kambing datang melintasi tempat itu. Bayi singa itu menggerak-gerakan tubuhnya yang lemah. Seekor induk kambing tergerak hatinya. Ia merasa iba melihat anak singa yang lemah dan hidup sebatang kara. Dan terbitlah nalurinya untuk merawat dan melindungi bayi singa itu.

Sang induk kambing lalu menghampiri bayi singa itu dan membelai dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Merasakan hangatnya kasih sayang seperti itu, si bayi singa itu tidak mau berpisah dengan sang induk kambing. Ia terus mengikuti kemana saja induk kambing pergi. Jadilah ia bagian dari keluarga besar rombongan kambing itu.

Hari berganti hari, dan anak singa tumbuh besar dalam asuhan induk kambing dan hidup dalam komunitas kambing. Ia menyusu, makan, minum, bermain bersama anak-anak kambing lainnya. Tingkah lakunya juga persis layaknya kambing. Bahkan anak singa yang mulai beranjak besar itu pun mengeluarkan suara layaknya kambing. Ia mengembik bukan mengaum!

Ia merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan kambing-kambing lainnya. Ia sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah seekor singa!
Suatu hari, terjadi kegaduhan luar biasa. Seekor serigala buas masuk memburu kambing untuk dimangsa. Kambing-kambing berlarian panik. Semua ketakutan. Induk kambing yang juga ketakutan meminta anak singa itu untuk menghadapi serigala.

“Kamu singa, cepat hadapi serigala itu! Cukup keluarkan aumanmu yang keras dan serigala itu pasti lari ketakutan!” Kata induk kambing pada anak singa yang sudah tampak besar dan kekar. Tapi anak singa yang sejak kecil hidup di tengah-tengah komunitas kambing itu justru ikut ketakutan dan malah berlindung di balik tubuh induk kambing. Ia berteriak sekeras-kerasnya dan yang keluar dari mulutnya adalah suara embikan. Sama seperti kambing yang tak lain adalah saudara sesusuannya diterkam dan dibawa lari serigala.

Induk kambing sedih karena salah satu anaknya tewas dimakan serigala. Ia menatap anak singa dengan perasaan nanar dan marah! “ Seharusnya kamu bisa membela kami! Seharusnya kamu bisa menyelamatkan saudaramu ! seharusnya kamu bisa mengusir  serigala yang jahat itu!”

Anak singa itu hanya bisa menunduk. Ia tidak paham dengan maksud perkataan induk kambing. Ia sendiri merasa takut pada serigala sebagaimana kambing-kambing yang lain. Anak singa itu merasa sangat sedih karena ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Hari berikutnya serigala ganas itu datang lagi. Kembali memburu kambing-kambing untuk disantap. Kali ini induk kambing tertangkap dan telah dicengkeram oleh serigala. Semua kambing tidak ada yang berani menolong. Anak singa itu tidak kuasa melihat induk kambing yang telah ia anggap sebagai ibunya dicengkeram serigala. Dengan nekat ia lari dan menyeruduk serigala itu. Serigala kaget bukan kepalang melihat ada seekor singa dihadapannya. Ia melepaskan cengkeramannya.

Serigala itu gemetar ketakutan! Nyalinya habis! Ia pasrah, ia merasa hari itu adalah akhir hidupnya!
Dengan kemarahan yang luar biasa anak singa itu berteriak keras, “ Emmbiiikk!!”
Lalu ia mundur ke belakang, mengambil ancang-ancang untuk menyeruduk lagi.


Melihat tingkah anak singa itu, serigala yang ganas dan licik itu langsung tahu bahwa dihadapannya adalah singa yang bermental kambing. Tak ada bedanya dengan kambing. Seketika itu juga ketakutannya hilang. Ia menggeram  marah dan siap memangsa kambing bertubuh singa itu! Atau singa bermental kambing itu!

Saat anak singa itu menerjang dengan menyerudukkan kepalanya layaknya kambing, sang serigala telah siap dengan kuda-kudanya yang kuat. Dengan sedikit berkelit, serigala itu mereobek wajah anak singa itu dengan cakarnya. Anak singa itu terjerembab dan mengaduh, seperti kambing mengaduh. Sementara induk kambing menyaksikan peristiwa itu dengan rasa cemas yang luar biasa. Induk kambing itu heran, kenapa singa yang kekar itu kalah dengan serigala. Bukankah singa itu raja hutan???

Tanpa memberi ampun sedikitpun serigala itu menyerang anak singa yang masih mengaduh itu. Serigala itu siap mengahabisi nyawa anak singa itu. Disaat yang kritis itu, induk kambing yang tidak tega, dengan sekuat tenaga menerjang sang serigala. Sang serigala terpelanting. Anak singa bangun.
Dan pada saat itu, seekor singa dewasa muncul dengan auman yang dahsayat!

Semua kambing ketakutan  dan merapat! Anak singa itu juga ikut merapat. Sementara sang serigala langsung lari terbirit-birit. Saat singa dewasa hendak menerkam kawanan kambing itu, ia terkejut di tengah-tengah kawanan kambing itu ada seekor anak singa.

Beberapa ekor kambing lari, yang lain langsung lari. Anak singa itu langsung ikut lari. Singa itu masih tertegun. Ia heran kenapa anak singa itu ikut lari mengikuti kawanan kambing? Ia mengejar anak singa itu dan berkata, “ hai kamu jangan lari! Kamu anak singa, bukan kambing! Aku tak akan memangsa anak singa!”

Namun anak singa itu terus lari dan lari. Singa dewasa itu terus mengejar. Ia tidak mengejar kawanan kambing melainkan mengejar anak singa. Akhirnya anak singa itu tertangkap. Anak singa itu ketakutan,
 “ Jangan bunuh aku, ampuuunn!”
“ Kau anak singa, bukan anak kambing. Aku tidak membunuh anak singa!”
Dengan meronta-ronta anak singa itu berkata “ Tidak aku anak kambing! Tolong lepaskan aku!”

Anak singa itu meronta dan berteriak keras. Suaranya bukan auman tapi suara embikan, persis seperti suara kambing. Sang singa dewasa heran bukan main. Bagaimana mungkin ada anak singa bersuara kambing dan bermental kambing. Dengan geram ia menyeret anak singa itu ke danau. Ia harus menunjukan siapa sebenarnya anak singa itu. Begitu sampai di danau yang jernih airnya, ia meminta anak singa itu melihat bayangan dirinya sendiri. Lalu membandingkan dengan singa dewasa.

Begitu melihat bayangan dirinya, anak singa itu terkejut,
“ Oh, rupa dan bentukku sama dengan kamu. Sama dengan singa, si raja hutan!”
“ Ya, karena kamu sebenarnya anak singa. Bukan anak kambing!” tegas singa dewasa
“ jadi aku bukan kambing? Aku adalah seekor singa!”
“ Ya kamu adalah seekor singa, raja hutan yang berwibawa dan ditakuti oleh seluruh isi hutan! Ayo aku ajari bagaimana seekor raja hutan!” kata sang singa dewasa
Singa dewasa lalu mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa dan mengaum dengan keras. Anak singa itu lalu menirukan, dan mengaum dengan keras. Ya mengaum, menggetarkan seantero hutan. Tak jauh dari situ serigala ganas itu lari semakin kencang, ia ketakutan mendengar auman anak singa itu. Anak singa itu kembali berteriak penuh kemenangan, “ Aku adalah seekor singa! Raja hutan yang gagah dan perkasa!”Singa dewasa tersenyum bahagia mendengarnya.
Intisari

Saya tersentak oleh kisah anak singa diatas! Jangan-jangan kondisi kita, dan sebagian besar orang di sekeliling kita mirip dengan anak singa diatas. Sekian lama hidup tanpa mengetahui jati diri dan potensi terbaik yang dimilikinya. Betapa banyak manusia yang menjalani hidup apa adanya, biasa-biasa saja, ala kadarnya. Hidup dalam keadaan terbelenggu oleh siapa dirinya sebenarnya. Hidup dalam tawanan rasa malas, langkah yang penuh keraguan dan kegamangan. Hidup tanpa semangat hidup yang seharusnya. Hidup tanpa kekuatan nyawa terbaik yang dimilikinya.

Saya amati orang-orang disekitar saya. Diantara mereka ada yang telah menemukan jati dirinya. Hidup dinamis dan prestatif. Sangat faham untuk apa ia hidup dan bagaimana ia harus hidup. Hari demi hari ia lalui dengan penuh semangat dan optimis. Detik demi detik yang dilaluinya adalah kumpulan prestasi dan rasa bahagia. Semakin besar rintangan semakin besar pula semangatnya untuk menaklukannya.

Namun tidak sedikit yang hidup apa adanya. Mereka yang hidup apa adanya karena tidak memiliki arah yang jelas. Tidak faham untuk apa hidup, dan bagaimana ia harus hidup. Saya sering mendengar orang-orang yang ketika ditanya, “ Bagaimana anda menjalani hidup anda?” atau “ Apa prinsip hidup anda?”, mereka menjawab dengan jawaban yang filosofis,
“ Saya menjalani hidup ini mengalir bagai air. Santai saja.”

Tapi sayangnya mereka tidak benar-benar tahu filosofi “ Mengalir bagaikan air”. Mereka memahami hidup mengalir bagaikan air ya hidup santai. Sebenarnya jawaban itu mencerminkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana mengisi hidup ini. Bagaimana cara hidup yang berkualitas. Sebab mereka tidak tahu siapa sebenarnya diri mereka? Potensi terbaik apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepada mereka. Bisa jadi mereka sebenarnya adalah “ Seekor singa” tapi tidak tahu kalau dirinya “seekor singa”. Mereka menganggap dirinya adalah “seekor kambing” sebab selama ini hidup dalam kawanan kambing.

Filosofi menjalani hidup mengalir bagaikan air yang dimaknai dengan hidup santai saja, atau hidup apa adanya bisa dibilang prototipe, gaya hidup sebagian besar penduduk negeri ini. Bahkan bisa jadi itu adalah gaya hidup sebagian besar masyarakat dunia Islam saat ini.

Ada seorang sastrawan terkemuka, yang demi melihat kondisi bangsa yang sedemikian akut rasa tidak berdayanya sampai dia mengatakan,
“ Aku malu jadi orang Indonesia!“
Dimana-mana, kita lebih banyak menemukan orang-orang bermental lemah, hidup apa adanya dan tidak terarah. Orang-orang yang tidak tahu tentang potensi terbaik yang diberikan oleh Allah kepadanya. Orang-orang yang rela ditindas dan dijajah oleh kesengsaraan dan kehinaan. Padahal sebenarnya jika mau, pasti bisa hidup lebih merdeka, jaya, berwibawa dan sejahtera.

Tak terhitung berapa jumlah masyarakat negeri ini yang bermental kambing. Meskipun sebenarnya mereka adalah singa! Banyak yang minder dengan bangsa lain. Seperti mindernya anak singa bermental kambing pada serigala dalam kisah diatas. Padahal sebenarnya, Bangsa ini adalah Bangsa besar! Ummat ini adalah ummat yang besar!

Bangsa ini sebenarnya adalah singa dewasa yang sebenarnya memiliki kekuatan dahsyat. Bukan bangsa sekawanan kambing. Sekali rasa berdaya itu muncul dalam jiwa anak bangsa ini, maka ia akan menunjukan pada dunia bahwa ia adalah singa yang tidak boleh diremehkan sekalipun.

Bangsa ini sebenarnya adalah sriwijaya yang perkasa menguasai nusantara. Juga sebenarnya adalah Majapahit yang digjaya dan adikuasa. Lebih dari itu bangsa ini, sebenarnya, dan ini tidak mungkin disangkal, adalah ummat islam terbesar di negeri tercinta Indonesia ini. Banyak yang tidak menyadari apa makna dari dua ratus juta jumlah ummat islam Indonesia. Banyak yang tidak sadar. Dianggap biasa saja. Sama sekali tidak menyadari jati diri sesungguhnya.

Dua ratus juta ummat Islam Indonesia, maknanya adalah dua ratus juta singa. Penguasa belantara dunia! Itulah yang sebenarnya. Sayangnya, dua ratus juta yang sebenarnya adalah singa justru bermental kambing dan berperilaku layaknya kambing. Bukan layaknya singa! Lebih memprihatinkan lagi, ada yang sudah menyadari dirinya sesungguhnya singa tapi memilih untuk tetap menjadi kambing. Karena telah terbiasa menjadi kambing maka ia malu menjadi singa! Malu untuk maju dan berprestasi!

Yang lebih memprihatinkan lagi, mereka yang memilih tetap menjadi kambing menginginkan yang lain tetap menjadi kambing. Mereka ingin tetap jadi kambing sebab merasa tidak mampu jadi singa dan merasa nyaman jadi kambing. Yang menyedihkan, mereka tidak ingin orang lain jadi singa. Bahkan mereka ingin orang lain menjadi kambing yang lebih bodoh!

Marilah kita hayati diri kita sebagai seekor singa. Allah telah memberi predikat kepada kita sebagai ummat terbaik di muka bumi ini. Marilah kita bermental menjadi ummat yang terbaik di muka bumi ini. Jangan bermental ummat yang terbelakang. Allah berfirman:





“ Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh berbuat yang ma’ruf, mencegah dari yang Munkar dan beriman kepada Allah.!!” ( QS. Ali-Imran : 110 )




SELESAI

Ruang Lain "Naskah Monolog"

RUANG LAIN
Karya : Taufiqur Rahman

Di atas panggung terlihat seorang lelaki tua yang sedang duduk memangku dagu diatas tumpuan tangannya yang memegang tongkat untuk menopang tubuhnya berdiri dan berjalan. Ia menatap sejurus tanpa menghiraukan disekitarnya. Ia sesekali menangis, tersenyum dan kemudian menangis tersedu-sedu karena kepergian cucu yang disayanginya 2 hari yang lalu yaitu Anna telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Lantunan musik sayup-sayup menyayat hati para penonton semakin bertambah pula rasa pilu yang dirasakan lelaki tua itu.

(Diam, meringis dan menangis tersedu-sedu)
Sangat sakit rasanya, bila orang yang dicintai telah pergi menghadap-Nya. Tetapi mengapa? Mengapa dia pergi dengan meninggalkan luka yang dalam?Ohh .... Anna cucuku ... Anna ... Anna ... Aku masih ingat sekali saat menikmati pisang goreng dan kopi hitam pahit di teras 2 hari yang lalu. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar samar suara sirine, kemudian suara itu semakin dekat, dekat dan bahkan sangat dekat terlihatlah mobil ambulance putih parkir di halaman rumahku. Jantungku berdegup keras, tanganku bergetar dan aku berdiri menyambut petugas rumah sakit yang menghampiriku. Kemudian ia bertanya, “apa benar ini rumah bapak husin?” Ya, saya sendiri husin. Kemudian dia bertanya kembali, “apa benar cucu bapak bernama Anna?” Ya, benar ada apa dengan cucuku mas? “ Maaf pak, kami disini mengabarkan bahwa Anna cucu bapak telah Menghadap Yang Maha Kuasa.”
Hatiku seperti dicabik-cabik mendengar berita itu, dan air mataku meleleh saat melihat jenazah cucuku dibawa ke dalam ruang tamu rumahku. Aku bertanya pada petugas apa penyebab kematian cucuku? Mereka menjawab, cucuku mati karena menjadi korban dari bentrok antar pelajar saat ia pulang sekolah tadi siang. Aku sangat marah mendengarnya, rasanya aku ingin membalas dendam kematian cucuku. Tapi aku tahan juga emosiku ini, kemudian aku bertanya kembali. Siapa yang telah membunuh cucuku? Sudahkah ia diberi hukuman yang setimpal? Namun mereka hanya menjawab, yang membunuh cucuku masih menjadi buronan polisi.
Inikah negeri hukum? Inikah negeri yang memiliki moral pendidikan? Mengaku setiap sekolah dapat mendidik muridnya dengan baik. Tapi, murid-muridnya masih hobi dengan insiden yang mematikan. Cucuku-lah yang menjadi korban atas insiden itu ... mungkin kunci utamanya adalah kegagalan dari sekolah itu sendiri? Mengapa? Karena, sekolah itu hanya menjadikan siswanya sebagai objek pendidikan dari pagi hingga sore hanya dijejali otak kiri mereka. Seharusnya, siswa itu dijadikan sebagai subjek pendidikan. Mengembangkan potensi setiap siswa mulai dari kemandirian, kreatifitas, dinamika, kecermatan, kecerdasan dan perluasan pengetahuan. Nah, itu baru benar bahwa sekolah itu sebagai lembaga pendidikan.
Tetapi yang masih diherankan adalah guru yang kurang demokratis kepada anak didiknya. Apa yang dikatakan guru adalah segala-galanya. Yang lebih salah lagi ukuran penilaian terhadap kecerdasan anak didik seringkali hanya dilihat dari hasil skor nilai dari materi yang telah diberikan gurunya.
Contoh yang paling mudah adalah guru agama. Mengapa? Karena seringkali guru agama menilai anak didiknya sesuai dengan hasil tes. Bukan didasarkan anak didik dapat mengaplikasikan ajaran-ajaran agama dalam kehidupan sehari-harinya. Hmmm ... menyedihkan ...
Ruang lain yang perlu diperhatikan antara murid, guru dan kepala sekolah adalah diskusi dari hati ke hati demi kemajuan pendidikan bangsa. Yaa sekalinya ada dialog semua kesalahan pasti ditutupi(menyindir). Ingat! Bodohnya para pendidik menimbulkan anak didiknya bereaksi diluar ruang sekolah... Yaa, di depan guru baik tapi di luar sekolah mereka melakukan tindakan yang menyimpang seperti tawuran, drugs, obat-obat yang terlarang dsb.
Apalagi kalau sarana berekspresi di sekolah yang kurang memadai. Padahal sarana berekspresi adalah sarana yang sangat menunjang untuk meningkatkan rasa enjoy terhadap proses pendidikan di sekolah. Akibat kurangnya sarana berekspresi, tidak sedikit anak didik yang menyalurkan energi di luar sekolah tanpa kendali sang pendidik. Meski sudah ada sarananya, tidak sedikit sekolah yang menutup mata agar anak didiknya tidak terlalu berkecimpung di dunia kreatifitas. Contoh, meski ada kegiatan non akademik sekolah tetap saja memaksakan kehendak muridnya untuk terus belajar di ruang kelas hingga sore hari. Sampai-sampai dalam satu minggu mungkin siswa hanya mendapat 1 jam kegiatan non akademik. Apakah ini disebut keadilan?
Pemerintah dan masyarakat tampaknya harus bekerja keras untuk dapat membangun kualitas pendidikan sebagaimana yang diharapkan. Bukan hanya otak kiri saja yang terus dijejali pemantapan. Justru otak kanan yang mesti lebih dominan.

(Bangun dengan ekspresi kesal dan marah sambil memukulkan tongkatnya ke kursi. Dia bicara sambil meracau tak tertahan emosinya sendiri)
Akh ... persetan aku bicara tentang semua tadi!! Tidak mungkin cucuku dapat hidup kembali, tidak mungkin juga apa yang tadi kubicarakan di dengar oleh orang-orang yang katanya berpendidikan tinggi! Apa mungkin orang yang telah membunuh cucuku mendapatkan hukuman setimpal dengan apa yang kurasakan dan dirasakan juga oleh almarhumah cucuku? Wahai presiden lihatlah cucuku yang mati karena dibunuh, aku ingin menuntut balas atas kematian cucuku!!! Jangan biarkan kami menderita karena hanya menjadi korban!!! Kami adalah rakyatmu juga yang wajib kau lindungi darah kami!!!
(Tiba-tiba lelaki tua itu memegang dadanya seperti orang yang tengah merasakan penyakit jantung & akhirnya dia jatuh tersungkur pingsan).


<Fade out lampu mati dan masih terdengar lantunan musik sayup-sayup menyedihkan>

Between "Naskah Dwilog"

BETWEEN
Karya: Taufiqur Rahman

Dunia ini memang telah digariskan untuk berpasang-pasangan. Halnya antara hitam putih, kotor bersih, kaya miskin, bodoh pintar, besar kecil, tinggi pendek dan lain sebagainya. Antara kaya miskin dan pintar bodoh sebuah fenomena yang terjadi dalam suatu kesatuan yang besar yang memiliki komposisi antara kursi atas dan kursi bawah. Meski hanya melontarkan kritik tapi kami sadar bahwa pentingnya kesetaraan BETWEEN ………………

TOKOH I       : (Membaca Koran dan buku-buku yang berserakan)
Memang sulit menjadi orang kecil yang selalu dihimpit oleh orang tamak dengan dalih demi kesejahteraan orang banyak dan mungkin untuk menciptakan lingkungan yang kondusif. Padahal semua itu hanya untuk kepentingan pribadi. Sungguh tujuannya hanyalah untuk memperkaya diri. Mobil mewah, rumah mewah, istri banyak yang cantik, dan deposito bermilyar-milyar. Sampai tak terasa uang orang banyak itu-pun dikeruk habis! Inilah gambaran sebuah loyalitas sudah hilang dalam suatu kesatuan yang besar … wah semakin pusing membaca koran-koran dan buku-buku ini, pantas saja para generasi muda jaman sekarang segan untuk membaca.

TOKOH 2       : (Duduk dengan tatapan kosong)
Aku tidak tahu akan diberi hidup oleh Tuhan di muka bumi ini. Ketika saya bayi yang masih diberi asi hingga usia 2 tahun. Tak pernah terfikir kelak akan jadi apa aku dewasa nanti. Waktu demi waktu, detik demi detik, haripun terus berganti hingga menjadikan aku orang yang tak paham akan kehidupan. Padahal saat aku kecil ibuku selalu memberikan semangat agar aku hidup nanti menjadi Manusia. Beliau mengajarkanku membaca, menulis, melukis indahnya alam ini bahkan beliau rela mengorbankan hidupnya demi hidupku. Tapi semua itu tak berarti bagiku, dari kecil hingga dewasa ini aku lebih senang bermain-main dan bersenda gurau.

TOKOH I       : (Masih meneruskan bacaan yang dibacanya)
Mengapa aku orang kecil lebih menyukai membaca? Dibanding dengan orang-orang yang mampu mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi? Akh…aku terlalu sombong bila berkata seperti itu. Andaikan generasi muda sekarang memiliki jiwa-jiwa sang maestro pena. Halnya : Alm Ws. Rendra, Alm AT Mahmud, RA Kartini dan masih banyak lagi beliau-beliau yang semangat memperjuangkan pendidikan. Sampai rela di penjara oleh manusia-manusia yang berlindung pada kekuasaan…






TOKOH 2       : (Melanjutkan senda guraunya)
Yaa bermain-main kesana kemari hanya untuk kepuasan batin sendiri. Tapi, akhirnya aku menyesal atas perbuatanku sendiri. Suara hatiku berkata betapa bodohnya dirimu tak dapat memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan. Yaa aku sadar hidupku penuh dengan nafsu demi kenikmatan semata yang disediakan di dunia ini. Terkadang aku berfikir jika semua orang sepertiku apa jadinya Bangsa kita yang besar ini?

TOKOH I       : (Menyambung perkataan tokoh 2)
Di Negeri ini banyak orang yang pintar dan memintari orang. Tapi jangan salah orang pintar-pun dapat tersesat. Kalau Iwan Fals menulis lirik orang pintar jaman sekarang bagaikan belalang tua yang tak bisa sempat diam untuk memakan dedaunan di sekitarnya. Lebih baik jadi orang cerdas yang mengerti  antara baik dan buruk. Betul tidak?

TOKOH 2       : (Melayani dialog tokoh 1)
Sungguh perkataannya dapat dipertanggungjawabkan. Baknya realita kehidupan sekarang orang-orang kecil didalam sejarah hanya berperan menjadi korban dan sapi perahan. Sebaliknya, orang-orang yang beresembunyi dibalik tameng kekuasaan mengeruk keuntungannya.

TOKOH I       : Jika kita hanya dianggap sebagai binatang! Jika anak bangsa hanya dianggap angin yang berhembus! Untuk apa kita hidup??

TOKOH 2       : Hidup itu mestilah bermanfaat bagi sesama, agama dan nusa bangsa.

TOKOH I       : Tapi toh itu hanya teori belaka kan?? Namun realita menjawab lain “TONG KOSONG NYARING BUNYINYA”. Apakah kau pernah berfikir tentang nasib kita sendiri untuk masa depan? Mungkin lebih jauhnya memikirkan nasib bangsa sendiri?

TOKOH 2       : Berfikir akan nasib? Bukankah nasib itu takdir yang tak bisa diubah?

TOKOH I       : Kurang tepat! Takdir itu ada 2…ada takdir atas kehendak Yang Maha Kuasa dan takdir atas diri sendiri. Nah, yang kutanyakan takdir atas diri sendiri menurut usaha kita?  

TOKOH 2       : Takdir atas diri sendiri saja aku tak tahu bagaimana nasibnya. Apalagi nasib bangsa kita yang besar ini? Bukankah itu semua telah menjadi tanggung jawab orang-orang yang selalu duduk di gedung sana yang besar layaknya istana?

TOKOH I       : Sebenarnya jika kita berbicara tentang tanggung jawab maka kita semua yang bertanggung jawab atas itu. Bangsa yang besar harus melirik orang kecil seperti kita, meskipun kecil kita juga harus diberikan kesempatan mengeluarkan pendapat demi nasib bangsa kita. Betul tidak?
TOKOH 2       : Betul tidak tidak betul. Meski kita telah diberi kesempatan apakah akan mereka dengar? Padahal kita adalah bangsa yang merdeka, tapi aku merasa belum merasakan kemerdekaannya itu.

TOKOH I       : Apa kau tak pernah membaca sejarah? Bahwa kita telah memproklamirkan kemerdekaan kita? Kita sudah merdeka bung!

TOKOH 2       : Lalu akan nasib mereka yang terlantar, kelaparan, menderita dan tidak nampak usaha untuk memerdekakan mereka?? Apa itu yang disebut merdeka?

TOKOH I       : (Berjalan menuju tengah stage)
                        Sebuah buku akan menjadi rusak apabila tidak dijaga dan disampul. Kemudian sebuah buku akan terjaga dengan baik apabila dirawat dan disampul bukan? Begitu juga dengan nasib akan kemerdekaan kita sendiri, apabila kita tidak berusaha apakah kita akan merasakan kemerdekaan itu? Meskipun merasa itu pun dibawah kekuasaan kemerdekaan orang lain. Artinya kita harus berusaha atas diri kita sendiri.

TOKOH 2       : (Berjalan menuju tengah stage)
                        Yaa itu semua berlaku jika kita yang diberikan kesempurnaan dan tidak berlaku bagi yang diberikan kekurangan. Apa usaha mereka untuk mensejahterakan kita semua? (sedikit emosi)
                        Apakah kehidupan ini akan terus seperti ini sedangkan tetangga kita yang tidak lebih besar dari kita telah mampu mensejahterakan orang-orang seperti kita?

TOKOH I       : (Saling memandang)
                        Aku mengerti setelah semuanya aku pelajari bahwa nasib kita dan bangsa kita sendiri terletak pada usaha dan keyakinan kita untuk merubah semuanya. Oleh karena itu, mulai dari sekarang kita akan merubah semua yang tidak harus terjadi!

TOKOH 2       : (Mengisyaratkan bahwa ia siap)


(Bunyi lonceng menandakan pementasan berakhir)

 Lakon ini dibuat sesederhana mungkin untuk durasi yang tidak memakan waktu yang banyak namun memiliki pesan moral dan pendidikan. Semoga koreksi atas naskah ini dapat membangun saya untuk terus belajar! Terimakasih & salam budaya!

Lakon Karya Atas Cinta


LAKON KARYA ATAS CINTA

KARYA : TAUFIQUR RAHMAN
                (TEATER I’TIBAR)







1
“DI ATAS PANGGUNG TERLIHAT SILUET YANG MEMBELAH PANGGUNG. SISI LAIN TERDAPAT SOSOK SATU DUDUK DI ATAS KURSI MEMEGANG PENA DAN KERTAS. DISEBELAHNYA TERDAPAT ALAT TULIS YANG BIASA DIGUNAKAN OLEHNYA.SOSOK SATU SAMBIL MEMEGANG PENA DAN KERTAS IA MENGELUARKAN IGAUAN YANG TAK KARUAN”

SOSOK I        : Aku hanya manusia biasa yang sering melakukan maksiat. Kata orang  yang melihatku,aku penuh keistimewaan dengan pena dan kertas ini. Padahal sering kali aku bingung dengan sikap dan perasaanku. Aku terlalu egois yang ingin apa yang kubuat adalah sebuah maha karya. Tapi aku tidak bisa melakukan itu karena aku ingin punya sahabat.

SOSOK II       : Tak perlu berkeluh kesah  terhadap apa yang kau inginkan! Aku disini   siap membantumu! (SOSOK I MERABA-RABA SILUET SEOLAH- OLAH MENCARI SESUATU KEMUDIAN DIA MENULIS DENGAN  GIRANGYA).

SOSOK I        : Kau yakin dapat membantuku? Asal kau tau di otakku hanya lakon yang akan dimainkan oleh teman-temanku! Mereka  seniman-seniman yang handal,kuat mental! Sampai mereka rela hidup mereka sebagai hidup. Jadi,aku dapatkan mempermainkanmu sesuai lakon yang kubuat.(TERTAWA SEBENTAR KEMUDIAN KEMBALI MERENUNG).

SOSOK II       : Aku tau apa yang kau inginkan dan apa yang harus kau perbuat! (SOSOK II MASUK KE PANGGUNG DARI SAMPING STAGE DAN SOSOK I BERTANYA DENGAN KEHERANAN)

SOSOK I        : Yang benar?? Apa kau serius?? Jelaskan apa yang kau ketahui tentang diriku?? (MENYINDIR)

SOSOK II       :Yang kau inginkan adalah ketenangan,kesenangan dan motivasi hidup. Kau bisa mendapatkannya dari seorang sahabat.

SOSOK I        : TERMENUNG DAN MENGELUARKAN AIR MATA)
                        Telah lama aku dambakan apa yang kau katakan. Tetapi saat ini aku hanya mempunyai pena dan kertas ini . Dengan benda ini aku berusaha menyampaikan aspirasi dan keadaan rakyat sekarang! Jadi hanya benda ini sahabatku.

SOSOK I        : Baik, aku mengerti ….tapi yang ku maksud bukan hanya itu…


2
SOSOK I        : Lalu apa??

SOSOK II       : Sesosok sahabat yang memperhatikanmu dan bukan kau harus memperhatikan dia. Sahabat yang selalu memehami ,menemani, menghargai dan mendorong dari hasil katyamu… Dan kau hanya tinggal duduk manis sambil menulis dan menunggu secangkir teh darinya.

SOSOK I:       Andai sahabat itu datang. Dia membawa ketenangan, kegembiraan dan semangat hidup yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

SOSOK II       : Akhirnya kau mengerti juga!

SOSOK I        : Dimana aku dapat menemukannya?? (PENASARAN)

SOSOK II       : Di dalam hati dan jati dirimu!

SOSOK I        : Bukankah kedua hal itu telah ada dalam diriku??

SOSOK II       : Benar, namun kau belum menemukannya.

SOSOK I        : Kau pembohong, mulut besar, penghasut!!
                        (MELEMPARI DENGAN KERTAS YANG BERCECERAN)

SOSOK II       : Hei…hei…hei… bagaimana kau akan mendapatkannya jika hati dan jiwamu tak tenang!!

SOSOK I        : Ya…pasti aku dapatkan. Jika apa yang aku pikirkan menjadi buah mimpi yang indah…

SOSOK II       : Tapi…apakah yang kau pikirkan akan terdengar olehnya??

SOSOK I        : kurasa…ya dia mendengar aku bahkan memahami setiap kata yang aku ucap! (SINIS)

SOSOK II       : Jika tidak???

SOSOK I        : Lebih baik aku mati karya diatas cinta…daripada aku harus mati cinta diatas karya!!!

SOSOK II       : Cinta?? Bukankah kau pernah mencintai seseorang??

SOSOK I        : Ya, aku pernah mencintai seseorang…tapi itu dulu…


3
SOSOK II       : Tidak sadarkah kau sungguh egois?? Tidak memahami perasaan orang yang mencintai kau??

SOSOK I        : Ya!! Aku memang egois karena jiwa dan hidupku sudah kerasukan setan-setan yang tak pernah terlihat oleh mata telanjang!!!

SOSOK II       : Hmm…lalu bagaimana dengan hati dan perasaan dia yang sudah kau khianati??

SOSOK I        : Itu bukan urusanku!!! (SINIS)

SOSOK II       : Baiklah… aku menyerah dalam mengendalikanmu…sekarang lebih baik kau berteriak dan ucapkan kepada yang kau maksud!!

SOSOK I        : Apa yang kau maksud??

SOSOK II       : Kau ungkapkan sejujurnya apa yang kau rasa dan apa yang kau inginkan!!!

SOSOK I        : Ya…aku akan lakukan. Jika dia telah berjanji akan menyongsong terus fajar yang kian lama akan terbenam di ufuk timur…dan dia pun telah berjanji tidak akan pernah membenciku setelah apa yang kita perbuat…

SOSOK II       : Tapi apakah kau yakin dia akan mengerti terhadap apa yang kau ucapkan??? Bukankah dia seorang tuna netra,tuna wicara dan tuna rungu??

SOSOK I        : Aku akan gunakan hatiku untuk meluluhkan hatinya…!!! Jika dia tidak mengerti juga, terpaksa aku akan mati demi apa yang aku dambakan!! Bukan hasrat yang menggiring aku ke neraka, tapi hasrat yang menggiring aku ke surga!!! (MENGAMBIL SEBILAH PISAU HENDAK MEMUTUSKAN URAT NADI TANGANNYA).

SOSOK II       : Hei…kau tidak lihat??? Dia tidak akan pernah memahamimu…dia rela mati demi kau!!!

SOSOK I        : Aku tak peduli, tapi aku akan menyendiri memahami hembusan udara, kicauan burung dan sejuknya embun fajar…(MELEPASKAN PISAU YANG NYARIS MEMBUNUHNYA)

SOSOK II       : Hal itu yang akan kau dapatkan jika kau telah bertemu dengannya…




4
SOSOK I        : Untuk apa aku harus menemui seseorang yang sudah tidak aku cintai???

SOSOK II       : Agar kau meminta maaf atas apa yang kau perbuat…dan kau harus bertanggung jawab terhadap perkataanmu yang menyangkut perasaannya!!!

SOSOK I        : Minta maaf?? Minta maaf?? Minta maaf?? Kenapa aku harus melakukan itu?? Memang aku telah berbuat kesalahan yang fatal?? Sehingga aku harus rela harga diriku kukorbankan hanya untuk meminta maaf??? (MARAH DAN MELEMPARKAN KURSI).

SOSOK II       : Karena kau telah menyakiti hati sucinya dan kau telah menodai kesuciannya!!!

SOSOK I        : Itu semua diluar kesadaranku…

SOSOK II       : Tapi kau memanfaatkannya hanya untuk memenuhi hasrat kebiadabanmu… Yang menganggap dia hanya aktris yang bermain pada lakon yang kau buat!!! Saat itu dia sangat sengsara dan menderita karena sikapmu yang hanya mementingkan diri sendiri…dan saat itu pula ia tak tau dimana dan bagaimana ia harus hidup hingga ajal menjemputnya!!! Dan kau tak pernah tau dan tidak ada usuha agar kau tau!!!
                        (MENYUDUTKAN SOSOK I, SOSOK I SEMAKIN TERTEKAN DENGAN KEJIWAANNYA HINGGA IA BERTERIAK TAK KARUAN MENYESALI APA YANG TELAH IA LAKUKAN)

SOSOK I        : Aaa…aaa…aaa…aaa…(BERTERIAK)
                        Aku biadab…tak berperasaan!!! Egois!!! Bodoh!!! Aku bagaikan binatang yang tolol dan buas!!! (BERTERIAK SAMBIL MELAKUKAN AKTIFITAS TAK KARUAN)

SOSOK II       : Kau tak perlu berteriak dan berbuat seperti itu…karena toh itu hanya menghabiskan energi…dan perbuatanmu tidak akan merubah keadaannya sedikitpun…keterpurukan dia yang tak pernah kau tengok dan kau rasakan!!!

SOSOK I        : Aku rasakan itu…aku rasakan…(MIRIS)

SOSOK II       : Tapi semua itu percuma…penyesalanmu tidak membuahkan apapun bagi diri dan kehidupannya…karena dia…karena dia telah tiada…dia telah mati…seseorang yang begitu cantik, indah, pintar, cerdas yang mendekati titik kesempurnaan itu telah kau khianati cintanya… kau bagaikan penjual yang menjual belikan perasaan hatinya!!!


5
SOSOK I        : Cukup!! Cukup!!
                        Aku sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan busukmu!!! Aku sadar mencintainya tidak cukup dengan mata telanjang tapi dengan matahati…

SOSOK II       : Matahatimu telah hitam!!!
                        Yang di selimuti pikiran-pikiran porno, anarkis, egois, sok cerdas, ingin menang sendiri dan….

SOSOK I        : Akan kubunuh kau!!! Karena ocehanmu yang busuk itu!!!

SOSOK II       : Lihatlah saudara-saudara!! Manusia yang mempunyai hati untuk merenung dan otak untuk berfikir melakukan hal yang sebodoh ini…karena matahatinya penuh dengan kegelapan dan tidak mempunyai perasaan cinta dan rasa menghargai terhadap sesamanya…

SOSOK I        : Diam cecunguk busuk!!!! Kau membuat jiwaku menjadi gila…dan kegilaan itu akan menghabiskan pula kenikmatan di kehidupanmu!!!

SOSOK II       : Hei apa kau sadar apa yang kau ucapkan?? Dan siapa sebenarnya dirimu??

SOSOK I        : Memang siapa sebenarnya diriku?

SOSOK II       : Kau terlahir dari sebuah mimpi dan realita kehidupan yang mengawali ke gerbang kehidupan nyata… oleh karena itu, semua yang kau perbuat dank au ucapkan kau hanya berfikir itu mimpi… memang dalam kehidupan nyata mimpi itu awal dari keberhasilan yang pasti memiliki berjuta-juta halangan dan rintangan… tapi kehidupanmu, mulai dari lahir hingga saat ini adalah mimpi.

SOSOK I        : Berarti jika ucapanmu benar, semua yang hadir di gedung ini mereka tertidur… dan mereka bermimpi menonton kita yang penuh kekonyolan? Aku semakin bingung dengan apa yang telah kau ucapkan?
                                                                                                                        

SOSOK II       : Ya, yang kau katakan benar…dan semua orang yang hadir di gedung ini sedang bermimpi… Tanpa kau sadari mimpi mereka adalah kita yang sedang berada di atas panggung ini.

                        (SOSOK I MEMANDANGI PENONTON DENGAN KEANEHAN SAMBIL IA SEOLAH-OLAH MERABA DAN MENCARI RUANG BATAS ANTARA KEHIDUPAN NYATA DAN MIMPI)



6
SOSOK II       : Apa yang sedang kau lakukan?

SOSOK I        : DIam kau! Tak perlu kau campuri hidupku.

SOSOK II       : Kau seperti orang gila!

                        (SOSOK I SAMBIL MENCARI DAN TERUS MERABA DIMANA RUANG ANTARA DUA DUNIA TERSEBUT. SESEKALI IA CEKIKIKAN, MENANGIS, TERMENUNG SAMBIL MENULIS DI CATATANNYA)

SOSOK I        : Diam…aku bukan orang gila. Tetapi aku seorang penuliti. (BERBISIK)

SOSOK II       : Meneliti? Apa yang kau teliti dan kau cari?

SOSOK I        : Aaah… Kau disini mengganggu saja…aku sedang mencari dan meneliti dimana ruang antara dua dunia ini. Antara dunia mimpi dan dunia nyata. (SOSOK I TERUS MELAKUKAN AKTIFITAS YANG TADI TANPA MENGHIRAUKAN SOSOK II)

SOSOK II       : Kau orang aneh!! Tapi apa benar ada ruang antar dua dunia tersebut? (SOSOK II PUN SESEKALI MENGIKUTI APA YANG DILAKUKAN SOSOK I)

SOSOK I        : Aduh…sebenarnya yang aneh tuh siapa?? Aku atau kau?? Katanya aku terlahir dari dunia mimpi, makanya aku penasaran dan ingin menemukan ruang antar dua dunia ini.

SOSOK II       : Owh…benar juga! Tapi aku heran apa gunanya kau menulis terus??

SOSOK I        : Kau ingin tau?? Kata kau aku terlahir dari mimpi…Nah, tulisan ini akan aku buktikan jika aku lahir didunia nyata nanti.

SOSOK II       : Kenapa ucapanku yang tadi membuat pusing otakku sendiri??

SOSOK I        : Karena kau terlalu mementingkan orang lain di bandingkan diri sendiri…kupikir kita seimbang. Aku orang yang selalu memikirkan diri sendiri dan kau terlalu memikirkan orang lain.

SOSOK II       : Apa yang seimbang??

SOSOK I        : Kelemahan kita dalam mengarungi hidup. Ingat kehidupan yang kita jalani tidak selamanya berjalan mulus namun banyak kelemahan dan kekurangan juga!
7
SOSOK II       : Benar juga! Tapi kau dapatkan kata-kata itu dari mana? Bukankah tadi aku seorang yang bijak dan kau orang yang…(TERPOTONG)

SOSOK I        : Aku bicara seperti ini karena tuntutan pak sutradara yang mengatur alur lakon ini.

SOSOK II       : Kok aku jadi semakin bingung?? Sebenarnya aku disini di dunia nyata atau mimpi?? Kok pake  pak sutradara segala..

SOSOK I        : Kita disini hidup di dunia nyata…hanya yang membuat naskah dan mengatur  reportoar ini orang yang habis bermimpi. Ya..jadi seperti inilah…Aku dituliskan sebagai sastrawan yang membuat dunianya sendiri..Dan kau seorang yang bijak yang selalu menekanku.

SOSOK II       : Tapi kenapa alur ceritanya jadi gak jelas seperti ini??

SOSOK I        : Benar juga! Ok, kayaknya kita harus tanya ke pak sutradara dulu.

SOSOK I & II        : Pak sut…??? Pak sutra…??? Pak sutradara…???

                        (AKHIRNYA PAK SUTRADARA ITU MENYAHUT DARI KERUMUNAN PENONTON YANG SEDANG MENYAKSIKAN LAKON TERSEBUT)

SUTRADARA : Ya…ada apa lagi? Kok aku diajak mentas juga?? Kan Cuma sutradara…(SEDIKIT EMOSI)

SOSOK I        : Maaf pak, eee…mmm…sebenarnya…
                        Ayo donk kamu orang bijak kasih tau pak sutradara!!
                        MENYUDUTKAN SOSOK II)

SOSOK II       : Aku gak berani ngomongnya…kamu aja dech…

SOSOK I        : Orang bijak saja tidak berani apalagi aku…

SOSOK I & II                          : Kamu saja…Kamu saja…
                        (KEDUANYA SALING MEMOJOKAN)

SUTRADARA : Sebenarnya ada apa ini?? Segala pake senggal-senggol?? Coba kamu jelaskan! (KE SOSOK I DAN SUTRADARA MULAI NAIK KE PANGGUNG)

SOSOK I        : Baik pak sutra…ngngng


8
SUTRADARA : Pak sutra lagi emangnya aku ini ulet apa?

SOSOK I        : Maaf pak sutradara… sebenarnya kami berdua lupa dengan alur dari cerita ini…gara-gara dia tuh…(KE SOSOK II)

SOSOK II       : Kok nyalahin orang lain?

SUTRADARA : Sudah cukup! Sebentar, aku lihat dulu naskahnya…(SAMBIL MEMAKAI KACAMATA DAN MENCARI LANJUTAN CERITA DARI NASKAH)
                        Ooo…ini dia!! Sekarang kalian berdua keluar dari stage dan biarkan para pemusik melanjutkan alur ceritanya…ok ngerti?

SOSOK I & II                                        : Siap pak!

                        (KETIGA ORANG TERSEBUT TURUN DARI PANGGUNG YANG DILANJUTKAN DENGAN TEMBANG LAGU DARI PARA PEMUSIK DAN PANGGUNG PUN GELAP. SETELAH BERES DARI TEMBANG LAGU TERLIHAT SOSOK I MERENUNG KEMBALI)

  • Karya atas cinta, bukan cinta atas karya…
Karena kita yang merasa, bukan mereka yang merasa…

  • Karya atas mimpi, bukan mimpi atas karya…
Karena kita yang meniti, bukan mereka yang meniti…

  • Jika manusia telah ada yang mencintai maka ia tak berhak menghianati…

  • Jika kita yang mencintai maka kita harus siap dikhianati…

(DIATAS PANGGUNG SPOT LIGHT MENYOROT SOSOK I YANG SEDANG ASYIK DENGAN PENA DAN BUKUNYA…DALAM KEADAAN HENING IA TERTAWA CEKIKIKAN KADANG JUGA MENGELUARKAN AIR MATA TANDA KESEDIHAN)

SOSOK I        :Memang menyenangkan hidup didunia ini…tak perlu bingung untuk mendapatkan sesuatu yang besar…karena hanya dengan menulis aku sudah dapatkan semuanya tanpa terkecuali…kadang dengan menulis aku menipu rakyat dengan mengadu dombakan mereka…aku juga pernah menulis hingga para petinggi-petinggi Negara kalang kabut tak karuan…pernah juga seorang wanita dengan tulisanku ini ia jatuh cinta dan jika sudah bosan?? Aku cukup menulis “AKU TIDAK MENCINTAI KAMU LAGI”…huu serunya!! Tapi jangan salah saudara-saudara!! Selain kelicikan yang kubuat diatas, aku juga sering menulis atas kesadaran spiritualku…
9
                        Dengan menyebarkan karya tulis yang penuh dengan norma-norma agama…motivasi hidup yang berlandaskan spiritual…biasanya dengan tulisan aku juga sadar,, aku pasti mati! Karena hidup berujung di sebuah tanah petakan dengan ukuran 2x1 meter dan tidak hektaran! Dan aku sadar kebaikan yang kuperbuat tidak kurang dari jutaan hektar…

                        (SAAT SOSOK I MERENUNG TIBA-TIBA PANGGUNG MENJADI GELAP DAN LAMPU BERUBAH MENJADI HIJAU…DI SILUET TIBA-TIBA KELUAR ASAP PUTIH DIBARENGI KILAT YANG MENYILAUKAN MATA YANG TAK TAU DARI MANA ASALNYA…DAN DI SILUET ITU MUNCUL BAYANGAN WANITA MENARI HALNYA BIDADARI MENARI DI KAYANGAN…SOSOK I PUN TERUS KEHERANAN DAN TERUS MELIHAT SILUET ITU…SAAT BAYANGAN ITU KELUAR DARI SILUET MUNCULLAH WANITA YANG BEGITU CANTIK)

WANITA        : Hei…hei…hei…
                        (SOSOK I MASIH TERCENGANG MELIHAT WANITA YANG BEGITU CANTIK)
                        Kau siapa?

SOSOK I        : Eh…mmm
                        Siapa aku?? Kau siapa??
                       
WANITA        : Aku seorang wanita yang menjadi primadona saat aku hidup…itu masa laluku kadang indah dan kadang juga menyakitkan jadi primadona itu…Lalu siapa kau??

SOSOK I        : Aku hanya manusia biasa yang senang menulis tentang social, cinta maupun tentang agama…kenapa kau bisa berada di tempat ini?

WANITA        : Karena aku sudah tidak hidup di dunia nyata yang pernah kusinggahi…kau sendiri??

SOSOK I        : Kata temanku aku terlahir dari mimpi dunia nyata yang sebenarnya akupun bingung dengan diriku sendiri…lihatlah orang yang berada disini mereka sedang asyik tidur…( KE ARAH PENONTON)

WANITA        : Wah…sepertinya ada yang aneh dalam dirimu! Menurutku pikiranmu telah tersugesti oleh pola pikir yang telah kau ciptakan sendiri…

SOSOK I        : Apa yang kau maksud??(PENASARAN)

WANITA        : Masa nanya maksud kepadaku? Kau sudah terbiasa bermain dengan kata-kata dan aku yakin kau dengan mudah mengerti apa yang kumaksud!
10

SOSOK I        : Apakah benar aku telah membuat duniaku sendiri? Apa buktinya jika yang kau katakana itu benar?

WANITA        : Meskipun aku baru bertemu denganmu…aku yakin kau cenderung egois, sedikit anarkis, dan selalu menyendiri…benarkan apa yang kuucapkan tadi?? (MENYUDUTKAN)

SOSOK I        : Cukup benar, perkataanmu seperti temanku tempo hari…aku terlalu egois dan tidak pernah ingin tau keadaan di sekitarnya bahkan keadaan dan perasaan orang yang mencintaiku…mengapa kau dapat menerka keadaan yang memang benar ada pada diriku??

WANITA        : Itu kisah masa laluku saat aku masih hidup…aku pernah mencintai seseorang hingga aku rela mati demi dia…dan dia pun mencintaiku, tapi hanya CINTA DIATAS KATA saja…dan ia adalah laki-laki sepertimu yang senang bergelut dengan permainan kata-kata diatas kertas putih…setelah apa yang ia inginkan didapatkannya…ia pun pergi tanpa menghiraukan perihnya hati ini…saat itu aku bingung dimana dan harus bagaimana aku hidup jika tanpa dia…karena beberapa waktu setelah ia meninggalkanku…(BERRHENTI SEJENAK DAN MENETESKAN AIR MATA)

SOSOK I        : Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Maaf aku tidak bermaksud membuatmu sedih seperti ini…

WANITA        : Tak mengapa…baiklah aku ceritakan kembali…saat itu aku bingung dimana dan harus bagaimana aku hidup jika tanpa dia…karena beberapa waktu setelah ia meninggalkanku…
                        (MENGUSAP AIR MATA YANG MENETES)
                         ia pun pergi meninggalkan dunia nyata untuk selamanya…
                        (SUASANA SEMAKIN MENGHARUKAN SAAT WANITA ITU MENANGIS DAN MENGADU KEPADA SOSOK I)
                        Karena tabrakan maut yang tak dapat dihindari olehnya…karena aku saking cinta kepadanya aku sangat stress menghadapi semua ujian yang menimpa padaku…aku menangis sepanjang hari tanpa menghitaukan apa yang menjadi hakku lagi…karena aku sangat cinta kepadanya…(MENANGIS DIHADAPAN SOSOK I)

SOSOK I        : Sudahlah…tak usah menyesali yang telah berlalu…karena toh semua yang telah tercipta akan hilang untuk menyambut dunia yang baru…(MENENANGKAN)



11
WANITA        : Aku tau semuanya pasti akan hilang…seperti halnya aku telah tiada dari kehidupan yang nyata…karena akupun bunuh diri setelah kepergian kekasihku…karena kufikir semua yang ku lakukan akan mengembalikannya disampingku…ternyata salah besar…setelah aku mati sampai saat ini aku belum menemukannya…syukurnya setelah kematianku aku menemukan tempat yang begitu indah dan aku selalu menari sepanjang hari agar aku dapat melepaskan bayangan dirinya…namun usahaku percuma tidak membuahkan hasil seperti apa yang aku inginkan…

SOSOK I        : kisahmu sangat menyedihkan hati bagi yang mendengarkannya…tapi kau harus tetap tegar karena aku siap untuk menjadi tempat peraduanmu…

WANITA        : Apakah kau mempunyai kisah yang sama seperti diriku? Mmm maksudku…(GUGUP)

SOSOK I        : Ya, dulu memang aku pernah mengalami seperti kisahmu…oleh karena itu, aku pun pernah merasakan tekanan cinta yang begitu dahsyat setelah kekasihku pergi meninggalkanku…sehingga, sebab dari kisahku itu aku sering mengabadikan dengan tulisanku ini…memang tulisanku tidak menarik untuk orang lain tapi yang terpenting adalah kepuasan batin yang aku dapatkan…karena jika aku terlahir kedunia nyata aku akan membawa tulisan ini untuk membuktikan aku terlahir dari dunia nyata…

WANITA        : waah…aneh juga yaa?? Apakah kau menyakiti hatinya sehingga ia pergi darimu?

SOSOK I        : Barangkali ya, tapi aku tidak tau secara mendetail…

WANITA        : Coba ceritakan dan tolong ingat kembali apa yang telah kau lakukan sehingga kekasihmu meninggalkanmu? (PENASARAN SAMBIL MENDESAK INGIN TAU)

SOSOK I        : Mengapa aku harus menceritakan kepadamu?

WANITA        : Karena aku telah menceritakan kisah hidupku yang pahit kepadamu…kau masih tidak mau menceritakannnya kepadaku?? Baiklah, bolehkah aku bertanya padamu??

SOSOK I        : Boleh, apa yang ingin kau tanyakan?

WANITA        : Apakah kau pernah menyakiti hati dan perasaannya dengan ucapanmu?

12
SOSOK I        : Mungkin, tapi selama bersamanya aku sangat tidak mau mengumbar kata-kata cinta kepadanya…karena kupikir kata-kata cinta hanya dapat membawa luka…

WANITA        : Kau salah besar! Kata cinta itu adalah awal dari hubungan yang begitu indah! (TERSENYUM SAMBIL MEMBAYANGKAN SESUATU)

SOSOK I        : Indah katamu? Bukankah kau tadi katakan kekasihmu hanya cinta diatas kata? (KEMBALI BERTANYA)

WANITA        : Asal kau tau wanita sangat tersanjung dan merasa hidup di dunia indah jika orang yang dicintainya mengucapkan apa yang telah ia tunggu.

SOSOK I        : Apa benar?

 WANITA       : Ya, karena akupun seorang wanita. Baik, apakah kau pernah melakukan apa yang tak inginkan?

SOSOK I        : Maksud kau?

WANITA        : Yaa…sesuatu yang membuat dirinya putus asa untuk menjalani hidup…

SOSOK I        : (SOSOK I SEDIKIT DIAM DAN BERFIKIR)
                        Mungkin aku pernah sedikit menodai kesuciannya…kemudian…

WANITA        : (EMOSI DAN SEDIKIT GERAM)
                        Apa??? Katamu sedikit??? Apa yang ada dalam pikiranmu sungguh bodoh dan dangkal!

SOSOK I        : Itu semua diluar kesadaranku!

WANITA        : Apapun alasanmu tidak patut di perhitungkan lagi! Apa kau tak pernah berfikir setelah apa yang kau lakukan? Bagaimana dengan perasaan dan hatinya! Sungguh, apa benar semua laki-laki di dunia ini seperti ini? (BERTERIAK MENANDAKAN KEKECEWAAN) kufikir setelah kekasihku berbuat yang sedemikian tidak ada lagi pengikutnya…namun, aku salah lagi! Ternyata di dunia lain masih berjuta-juta laki-laki seperti ini…sungguh menyesakkan!

SOSOK I        : Maafkan aku! (MERASAKAN KESALAHANNYA MENJADI KETERTEKANAN BAGINYA)

WANITA        : Untuk apa kau meminta maaf kepadaku?

SOSOK I        : Mmm…ngngng…(GUGUP)
13
WANITA        : Sekarang apa yang akan kau perbuat? Menyesalkah atau kau akan Meratap? Tapi itu semua akan sia-sia saja tanpa ada perubahan sedikitpun.

SOSOK I        : Lalu apa yang dapat aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku?

WANITA        : Entahlah…karena aku hanya ruh  yang hidup dan kau seorang yang terlahir dari mimpi…jadi, semua kesalahanmu bukan tanggunganku! (SINIS)

SOSOK I        : Baiklah, tapi aku…aku…

WANITA        : Apa??

SOSOK I        : Aku butuh seseorang yang dapat membantuku menyelesaikan semua ini…apakah kau dapat membantuku? (MENGHARAP)

WANITA        : Maaf aku tidak bisa! Kita berbeda keadaan…dan aku pun telah berjanji tidak ingin membantu orang yang telah menyakiti wanita sepertimu…

SOSOK I        : Jadi maksud kau??

WANITA        : Ya…aku tidak akan membantumu apapun alasannya…sekarang terserah padamu apa yang akan kau lakukan!

SOSOK I        : Tolonglah aku? Aku mohon??

WANITA        : Maaf aku tidak bisa!

SOSOK I        : Aku mohon padamu?

WANITA        : Sekali tidak tetap tidak!(TEGAS)

SOSOK I        : Baiklah, ternyata memang aku tak akan pernah mendapatkan sahabat yang aku dambakan untuk mendampingi dan membantuku saat aku sulit maupun senang…aku muak pada diriku sendiri…aku memang bodoh…egois…

WANITA        : Jangan menyesali seperti itu!

                        (TAK LAMA KEMUDIAN PANGGUNG MENJADI HIJAU DAN KILAT YANG MENYILAUKAN MATA DIBARENGI SUARA GUNTUR YANG MENGGELEGARKAN TELINGA DAN KEMBALI MUNCUL ASAP PUTIH YANG KELUAR DARI SILUET. SEMUA ITU MENJADI TANDA BERAKHIRNYA PERTEMUAN ANTARA SOSOK I DENGAN WANITA ITU)
                                                                                    14
WANITA        : Maafkan aku, karena tak dapat berlama-lama disini karena masaku telah habis..

SOSOK I        : Tunggu dulu…

                        (BELUM SEMPAT SOSOK I MENGUCAPKAN KATA-KATA WANITA ITU TELAH MASUK KEMBALI KE DALAM SILUET DAN SOSOK I HANYA BISA MERATAPI KESALAHAN DAN KEHILAFANNYA SENDIRI.)

SOSOK I        : Mungkin Tuhan tak pernah mengizinkanku untuk meminta maaf kepadanya dan menatap dia untuk terakhir kalinya…Mungkin juga ini takdir bagiku untuk mengakhiri mimpi dalam hidupku…
                        (PANGGUNGPUN BERUBAH MENJADI MERAH DAN SOSOK I TERUS MENCARI DAN BERPUTAR MENCARI BENDA YANG DAPAT MENGAKHIRI MIMPI DALAM HIDUPNYA. SAMBIL IA MENENGADAH KEATAS IA MENGUCAPKAN KATA-KATA TERAKHIRNYA SAMBIL MERATAP)
                        Cukup bagiku untuk menghianati cinta itu, dan cukup bagiku untuk mengakhiri dari karya-karyaku…karena aku tidak mau karyaku terlahir dari sebuah penghianatan dari dalam diriku…
                        (SETELAH MENGUCAPKAN KATA-KATA TERAKHIR IA PUN SIAP MEMBUNUH DIRINYA SENDIRI. NAMUN, SEBELUM ITU TERJADI SATU SPOT LIGHT MENYOROT DIRINYA SAJA. DAN TIBA-TIBA ADA SUARA YANG MENGGEMA ENTAH DARIMANA ASALNYA SAMBIL BERPESAN)

SUARA          : Arungilah duniamu dengan mengepakkan sayap-sayap imajinasimu dan tangkaplah berjuta-juta inspirasi yang terbang bebas di angkasa! Seperti orang-orang yang menginginkan memetik bintang di angkasa sahabat!!

                        (AKHIRNYA SOSOK I TIDAK JADI BUNUH DIRI KARENA IA SADAR SEMUA YANG AKAN DI LAKUKANNYA TIDAK AKAN MEMBUAHKAN MIMPI YANG INDAH)

Fade out:
SELESAI
29 december 2009 – 3 januari 2010


ViX


15