Selasa, 11 Oktober 2011

Between "Naskah Dwilog"

BETWEEN
Karya: Taufiqur Rahman

Dunia ini memang telah digariskan untuk berpasang-pasangan. Halnya antara hitam putih, kotor bersih, kaya miskin, bodoh pintar, besar kecil, tinggi pendek dan lain sebagainya. Antara kaya miskin dan pintar bodoh sebuah fenomena yang terjadi dalam suatu kesatuan yang besar yang memiliki komposisi antara kursi atas dan kursi bawah. Meski hanya melontarkan kritik tapi kami sadar bahwa pentingnya kesetaraan BETWEEN ………………

TOKOH I       : (Membaca Koran dan buku-buku yang berserakan)
Memang sulit menjadi orang kecil yang selalu dihimpit oleh orang tamak dengan dalih demi kesejahteraan orang banyak dan mungkin untuk menciptakan lingkungan yang kondusif. Padahal semua itu hanya untuk kepentingan pribadi. Sungguh tujuannya hanyalah untuk memperkaya diri. Mobil mewah, rumah mewah, istri banyak yang cantik, dan deposito bermilyar-milyar. Sampai tak terasa uang orang banyak itu-pun dikeruk habis! Inilah gambaran sebuah loyalitas sudah hilang dalam suatu kesatuan yang besar … wah semakin pusing membaca koran-koran dan buku-buku ini, pantas saja para generasi muda jaman sekarang segan untuk membaca.

TOKOH 2       : (Duduk dengan tatapan kosong)
Aku tidak tahu akan diberi hidup oleh Tuhan di muka bumi ini. Ketika saya bayi yang masih diberi asi hingga usia 2 tahun. Tak pernah terfikir kelak akan jadi apa aku dewasa nanti. Waktu demi waktu, detik demi detik, haripun terus berganti hingga menjadikan aku orang yang tak paham akan kehidupan. Padahal saat aku kecil ibuku selalu memberikan semangat agar aku hidup nanti menjadi Manusia. Beliau mengajarkanku membaca, menulis, melukis indahnya alam ini bahkan beliau rela mengorbankan hidupnya demi hidupku. Tapi semua itu tak berarti bagiku, dari kecil hingga dewasa ini aku lebih senang bermain-main dan bersenda gurau.

TOKOH I       : (Masih meneruskan bacaan yang dibacanya)
Mengapa aku orang kecil lebih menyukai membaca? Dibanding dengan orang-orang yang mampu mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi? Akh…aku terlalu sombong bila berkata seperti itu. Andaikan generasi muda sekarang memiliki jiwa-jiwa sang maestro pena. Halnya : Alm Ws. Rendra, Alm AT Mahmud, RA Kartini dan masih banyak lagi beliau-beliau yang semangat memperjuangkan pendidikan. Sampai rela di penjara oleh manusia-manusia yang berlindung pada kekuasaan…






TOKOH 2       : (Melanjutkan senda guraunya)
Yaa bermain-main kesana kemari hanya untuk kepuasan batin sendiri. Tapi, akhirnya aku menyesal atas perbuatanku sendiri. Suara hatiku berkata betapa bodohnya dirimu tak dapat memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan. Yaa aku sadar hidupku penuh dengan nafsu demi kenikmatan semata yang disediakan di dunia ini. Terkadang aku berfikir jika semua orang sepertiku apa jadinya Bangsa kita yang besar ini?

TOKOH I       : (Menyambung perkataan tokoh 2)
Di Negeri ini banyak orang yang pintar dan memintari orang. Tapi jangan salah orang pintar-pun dapat tersesat. Kalau Iwan Fals menulis lirik orang pintar jaman sekarang bagaikan belalang tua yang tak bisa sempat diam untuk memakan dedaunan di sekitarnya. Lebih baik jadi orang cerdas yang mengerti  antara baik dan buruk. Betul tidak?

TOKOH 2       : (Melayani dialog tokoh 1)
Sungguh perkataannya dapat dipertanggungjawabkan. Baknya realita kehidupan sekarang orang-orang kecil didalam sejarah hanya berperan menjadi korban dan sapi perahan. Sebaliknya, orang-orang yang beresembunyi dibalik tameng kekuasaan mengeruk keuntungannya.

TOKOH I       : Jika kita hanya dianggap sebagai binatang! Jika anak bangsa hanya dianggap angin yang berhembus! Untuk apa kita hidup??

TOKOH 2       : Hidup itu mestilah bermanfaat bagi sesama, agama dan nusa bangsa.

TOKOH I       : Tapi toh itu hanya teori belaka kan?? Namun realita menjawab lain “TONG KOSONG NYARING BUNYINYA”. Apakah kau pernah berfikir tentang nasib kita sendiri untuk masa depan? Mungkin lebih jauhnya memikirkan nasib bangsa sendiri?

TOKOH 2       : Berfikir akan nasib? Bukankah nasib itu takdir yang tak bisa diubah?

TOKOH I       : Kurang tepat! Takdir itu ada 2…ada takdir atas kehendak Yang Maha Kuasa dan takdir atas diri sendiri. Nah, yang kutanyakan takdir atas diri sendiri menurut usaha kita?  

TOKOH 2       : Takdir atas diri sendiri saja aku tak tahu bagaimana nasibnya. Apalagi nasib bangsa kita yang besar ini? Bukankah itu semua telah menjadi tanggung jawab orang-orang yang selalu duduk di gedung sana yang besar layaknya istana?

TOKOH I       : Sebenarnya jika kita berbicara tentang tanggung jawab maka kita semua yang bertanggung jawab atas itu. Bangsa yang besar harus melirik orang kecil seperti kita, meskipun kecil kita juga harus diberikan kesempatan mengeluarkan pendapat demi nasib bangsa kita. Betul tidak?
TOKOH 2       : Betul tidak tidak betul. Meski kita telah diberi kesempatan apakah akan mereka dengar? Padahal kita adalah bangsa yang merdeka, tapi aku merasa belum merasakan kemerdekaannya itu.

TOKOH I       : Apa kau tak pernah membaca sejarah? Bahwa kita telah memproklamirkan kemerdekaan kita? Kita sudah merdeka bung!

TOKOH 2       : Lalu akan nasib mereka yang terlantar, kelaparan, menderita dan tidak nampak usaha untuk memerdekakan mereka?? Apa itu yang disebut merdeka?

TOKOH I       : (Berjalan menuju tengah stage)
                        Sebuah buku akan menjadi rusak apabila tidak dijaga dan disampul. Kemudian sebuah buku akan terjaga dengan baik apabila dirawat dan disampul bukan? Begitu juga dengan nasib akan kemerdekaan kita sendiri, apabila kita tidak berusaha apakah kita akan merasakan kemerdekaan itu? Meskipun merasa itu pun dibawah kekuasaan kemerdekaan orang lain. Artinya kita harus berusaha atas diri kita sendiri.

TOKOH 2       : (Berjalan menuju tengah stage)
                        Yaa itu semua berlaku jika kita yang diberikan kesempurnaan dan tidak berlaku bagi yang diberikan kekurangan. Apa usaha mereka untuk mensejahterakan kita semua? (sedikit emosi)
                        Apakah kehidupan ini akan terus seperti ini sedangkan tetangga kita yang tidak lebih besar dari kita telah mampu mensejahterakan orang-orang seperti kita?

TOKOH I       : (Saling memandang)
                        Aku mengerti setelah semuanya aku pelajari bahwa nasib kita dan bangsa kita sendiri terletak pada usaha dan keyakinan kita untuk merubah semuanya. Oleh karena itu, mulai dari sekarang kita akan merubah semua yang tidak harus terjadi!

TOKOH 2       : (Mengisyaratkan bahwa ia siap)


(Bunyi lonceng menandakan pementasan berakhir)

 Lakon ini dibuat sesederhana mungkin untuk durasi yang tidak memakan waktu yang banyak namun memiliki pesan moral dan pendidikan. Semoga koreksi atas naskah ini dapat membangun saya untuk terus belajar! Terimakasih & salam budaya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar